Minggu, 02 November 2014

Penerapan Filsafat Sehari - hari

1.    A. Penerapan Filsafat Sehari - hari

Pengetahhuan dalam kehidupan manusia membawa kecenderungan berpikir bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menyelesaikan segala-galanya. Padahal terlalu sering terjadi bahwa problem yang ditimbulkan oleh penerapan ilmu pengetahuan dan pemanfaatan teknologi dalam kehidupan manusia sehari - hari bukanlah problem-problem teknis ilmiah, melainkan problem yang mempunyai kandungan moral.Masyarakat hidup dari, dengan, dan melalui hasil-hasil ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan dan teknologi yang mungkin membuat semua pencapaian material dan ( sebagian ) yang non-material di sekitar kita. Kemajuan yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan dalam beberapa dasa warsa terakhir ini serta keberhasilan menerapkan pandangan-pandangan dan temuan-temuannya, bukan hanya memperluas cakrawala dan memperdalam kepahaman manusia mengenai alam semesta, tetapi juga telah meningkatkan kemampuan kontrol manusia atas kekuatan alam bahkan atas kesadaran manusia.

Kehidupan manusia membawa kecenderungan berpikir bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menyelesaikan segala-galanya. Padahal terlalu sering terjadi bahwa problem yang ditimbulkan oleh penerapan ilmu pengetahuan dan pemanfaatan teknologi dalam kehidupan manusia sehari -hari bukanlah problem-problem teknis ilmiah, melainkan problem yang mempunyai kandungan moral. Masyarakat hidup dari,dengan, dan melalui hasil-hasil ilmu pengetahuan,
sehari-hari bukanlah problem-problem teknis ilmiah, melainkan problem yang mempunyai kandungan moral.

 Masyarakat hidup dari, dengan, dan melalui hasil-hasil ilmu pengetahuan, tetapi ada sebuah jurang yang dalamsekali antara apa yang secara teoretis dimengerti oleh masyarakat, dapat diharapkan dan apa yangsungguh-sungguh tertera dalam perwujudannya. Ketika ilmu pengetahuan dan metodenya diperkenalkan kemasyarakat baik melalui pendidikan formal maupun non-formal. Berbicara tentang landasan ...Era sekarang ini seringkali disebut-sebut sebagai era informasi, namun sesungguhnya di belakang pernyataan ini secara implisit terkandung pengertian mengenai era ilmu pengetahuan dan teknologi yang mungkin membuatsemua pencapaian material dan ( sebagian ) yang non-material di sekitar kita.Kemajuan yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan dalam beberapa dasawarsa terakhir ini serta keberhasilan menerapkan menerapkanpandangan-pandangan dan temuan-temuannya, bukan hanya memperluas cakrawala dan memperdalam kepahaman manusia mengenai alam semesta, tetapi juga telah meningkatkan kemampuan kontrol manusia ataskekuatan alam bahkan atas kesadaran manusia lainnya. Kemajuan ilmu pengetahuan telah memberikan kepada manusia kekuasaan yang semakin besar atas realitas.Tidak dapat disangkal bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi membawa juga bersamanya berbagai problem baru yang memprihatinkan yang menuntut kehendakuntuk menyelesaikan, serta sering kali tidak tertunda. Kedahsyatan penerapan ilmu pengetahhuan dalam kehidupan manusia membawa kecenderungan berpikir bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menyelesaikan segala-galanya.Padahal terlalu sering terjadi bahwa problem yang ditimbulkan oleh penerapan ilmu pengetahuan dan pemanfaatan teknologi dalam kehidupan manusia sehari-hari bukanlah problem-problem teknis ilmiah, melainkan problem yang mempunyai kandungan moral. Masyarakat hidup dari, dengan, dan melalui hasil-hasil ilmu pengetahuan, tetapi ada sebuah jurang yang dalam sekali antara apa yang secarateoretis dimengerti oleh masyarakat, dapat diharapkan dan apa yang sungguh-sungguh tertera dalam perwujudannya

B. Filsafat Administrasi
            Administrasi (dalam Sondang; 1991, 3), didefinisikan sebagai “keseluruhan proses kerjasama antara dua orang manusia atau lebih yang didasarkan atas rasionalitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya”.


Ada beberapa hal yang terkandung dalam devinisi di atas.

Pertama, administrasi sebagai seni adalah suatu proses yang diketahui hanya permulaannya sedang akhirnya tidak ada.
Kedua, administrasi mempunyai unsur – unsur tertentu, yaitu:
·         adanya dua manusia atau lebih adanya tujuan yang hendak dicapai,
·         adanya tugas atau tugas – tugas yang harus dilaksanakan,
·          adanya peralatan dan perlengkapan untuk melaksanakan tugas – tugas itu kedalam golongan peralatan dan perlengkapan termasuk pula waktu, tempat, peralatan, materi serta perlengkapan lainnya.
Ketiga, bahwa administrasi sebagai proses kerjasama bukan merupakan hal yang baru karena ia telah timbul bersama – sama bukan merupakan hal yan baru peradaban manusia. Tegasnya, administrasi sebagai “seni” merupakan suatu social phenomenon (perwujudan, kejadian, dan gejala natural).
           
Administrasi sebagai proses. Suatu proses adalah suatu yang permulaannya diketahui akan tetapi akhirnya tidak diketahui. Dengan demikian proses administrasi adalah suatu proses pelaksanaan kegiatan – kegiatan tertentu yang dimulai sejak adanya dua orang yang bersepakat untuk bekerjasama untuk mencapai suatu tujuan tertentu pula.
            Tentang unsur – unsur administrasi. Unsur – unsur (bagian – bagian yang mutlak) dari Administrasi adalah:
 (1) Dua orang manusia atau lebih,
 (2) Tujuan,
 (3) Tugas yang hendak dilaksanakan,
 (4) Peralatan dan Perlengkapan.

Mengenai unsur manusia, asumsi penulis ialah bahwa seseorang tidak dapat “bekerja sama” dengan dirinya sendiri. Karena itu harus ada orang lain yag secara sukarela atau dengan cara lain diajak turut serta dalam proses kerjasama itu.
           
Sedikit tentang tujuan. Terlalu sering orang beranggapan bahwa tujuan dari proses administrasi harus selalu ditentukan oleh orang – orang yang bersangkutan langsung dengan proses itu. Hal ini menurut pendapat penulis tidak benar.
Tujuan yang hendak dicapai dapat ditentukan oleh semua orang yang langsung terlibat dalam proses administrasi itu. Tujuan dapat pula ditentukan oleh hanya sebagian dan mungkin hanya seseorang dari mereka yang terlibat. Akan tetapi tidak mungkin juga apabila yang menentukan tujuan adalah pihak luar.
           
Tugas dan pelaksanaannya. Berbicara mengenai tugas yang hendak dilaksanakan, sering pula orang beranggapan bahwa proses administrasi baru timbul apabila ada kerjasama. Tidak demikian halnya. Dengan perkataan lain, kerjasama bukan merupakan unsur administrasi. Meskipun demikian perlu ditekankan bahwa pencapaian tujuan akan lebih efisien dan ekonomis apabila semua orang yang terlibat mau bekerjasama satu sama lain. Akan tetapi kerjasama pun misalnya dalam hal dipaksakan, proses administrasi dapat terjadi, karena dengan paksaan proses administrasi dapat timbul. Kerjasama dalam administrasi dapat digolongkan kepada dua golongan, yaitu kerjasama yang ikhlas dan sukarela (voluntary cooperation) , dan kerjasama yang dipaksakan (compulsoryatau antagonistic cooperation).

            Peralatan dan perlengkapan. Peralatan dan perlengkapan yang diperlukan dalam suatu proses administrasi tergantung dari berbagai faktor seperti:
 (1) Jumlah orang yang terlibat dalam proses itu,
 (2) Sifat tujuan yang hendak dicapai,
(3) Ruang lingkup serta aneka ragamnya tugas yang hendak dijalankan, dan
 (4) Sifat kerjasama yang dapat diciptakan dan dikembangkan. Barangkali secara “aksiomatis” dapat dikatakan bahwa semakin sedikit jumlah orang yang terlibat, semakin sederhana tujuan yang hendak dilaksanakan, semakin sederhana pula peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan.


2. Ruang Lingkup Filsafat
Filsafat merupakan sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang baisanya diterima secara kritis atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap terhadap kepercayaan da sikap yang sangat kita junjung tinggi.
Adapun menurut pendapat para ahli tentang ruang lingku filsafat :
  1. Tentang hal mengerti, syarat-syaratnya dan metode-metodenya.
  2. Tentang ada dan tidak ada.
  3. Tentang alam, dunia dan seisinya.
  4. Menentukan apa yang baik dan apa yang buruk.
  5. Hakikat manusia dan hubungannya dengan sesama makhluk lainnya.
  6. Tuhan tidak dikecualikan.
Adapun ruang lingkup filsafat adalah segala sesuatu lapangan pikiran manusia yang amat luat. Segala sesuatu yang mungkin ada dan benar, benar ada (nyata), baik material konkrit maupun nonmaterial abstrak (tidak terlihat). Jadi obyek filsafat itu tidak terbatas. Objek pemikiran filsafat yaitu dalam ruang lingkup yang menjangkau permasalhan kehidupan mausia, alam semesta dan alam sekitarnya adalah juga objek pemikiran filsafat pendidikan.




1 Komentar:

Pada 16 April 2017 pukul 06.23 , Blogger kesukaan ku mengatakan...

goblog tulisannya diulang ulang

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda