ALKITAB SEBAGAI FIRMAN ALLAH YANG BERKUASA
Bab I
Pendahuluan
A.Latar Belakang
Dewasa
ini, banyak orang-orang Kristen yang menjalankan ibadahnya dengan hanya datang
ke gereja saja. Bahkan ada beberapa orang yang menganggap agama Kristen itu
hanya sebagai “pelengkap” pada Kartu Tanda Penduduk atau KTP bahwa dia sudah
memiliki agama. Dalam hal lain dia tidak mau disebut orang-orang disekitarnya
tidak beragama, atau yang sering disebut atheis. Padahal hal seperti itu (datang ke gereja saja) tidak cukup
untuk mengerti kehendak-Nya.
Sebagai
seorang Kristen sejati (bukan Kristen KTP dan hanya datang ke gereja saja) yang
paling utama adalah harus percaya dan mengenal diri Tuhan kita, Tuhan Yesus
Kristus dengan memahami firman-Nya yang tercantum dalam Alkitab. Firman-Nya “Akulah
jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa,
kalau tidak melalui Aku” inilah yang seharusnya menjadikan kita mengenal
Dia lebih dekat lagi.
Alkitab
adalah Firman Allah yang memiliki kekuasaan tertinggi dalam kehidupan
orang-orang Kristen di dunia. Selain itu, ada pula “sesuatu” yang membantu kita
memahami isi dari Alkitab. “Sesuatu” itu adalah Roh Kudus yang merupakan Roh
dari Allah yang bekerja dalam kehidupan orang Kristen, sehingga orang Kristen
dapat membaca dan mendengar serta memahami isi Alkitab selaku Firman Allah.
Seperti kata Pemazmur “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi
jalanku” itulah yang menjadi dasar dan pedoman bagi perbuatan dan kehidupan
orang beriman. Oleh karena itu, orang Kristen (secara pribadi maupun bersama)
harus membaca, mendengar dan merenungkan Alkitab siang dan malam agar mengerti
maksud dari Tuhan Yesus Kristus.
Terkadang
kita menganggap Tuhan sering meninggalkan umatnya yang sedang membutuhkan
pertolongan-Nya atau sedang dalam keadaan sulit. Akan tetapi sebenarnya Tuhan
tidak pernah meninggalkan umatnya yang membutuhkan-Nya. Dalam Mazmur berkata, “Orang
yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu, sebab tidak Kautinggalkan orang
yang mencari Engkau, ya TUHAN.”
Sebagai
orang Kristen untuk menghadapi situasi yang sulit harus mendekatkan diri kepada
Tuhan agar iman kita lebih kokoh. Selain itu, kita juga harus rajin membaca
firman-Nya karena Firman Tuhan sama dengan perkataan yang memiliki kuasa untuk
menyelesaikan segala persoalan. Dalam kitab hukum Taurat tertulis ” Sebab perkataan ini bukanlah perkataan
hampa bagimu, tetapi itulah hidupmu, dan dengan perkataan ini akan lanjut
umurmu di tanah, ke mana kamu pergi, menyeberangi sungai Yordan untuk
mendudukinya.” Inilah yang seharusnya menjadi pondasi bagi kita untuk lebih
bertekun dalam Firman-Nya.
B. Pengertian
Alkitab
adalah kumpulan kitab-kitab yang diakui sebagai kanonik dan diakui sebagai
Firman Allah oleh gereja Kristen. Kanonik sendiri adalah tongkat pengukur untuk
mengukur dan membukukan kitab-kitab itu menjadi satu. Nama Alkitab sendiri
berasal dari bahasa Yunani, Biblia yang berarti buku-buku. Dan bagi keseluruhan
kitab itu, seolah-olah 1 kitab saja. Karena kitab-kitab tersebut dikumpulkan
dan dikanonikkan menjadi 1 buku.
Alkitab
sendiri terbagi dari 66 kitab dan surat, yang terdiri dari Perjanjian Lama (39
kitab) yang berbahasa Ibrani, kecuali kitab Ezra dan kitab Daniel yang
berbahasa Aram dan Perjanjian Baru (27 kitab dan surat) yang seluruhnya
berbahasa Gerika. Kitab dan surat ini telah ditulis oleh 40 orang (raja,
pedagang, pemungut cukai, dan lain-lain) dan pembuatan ini membutuhkan waktu
kurang lebih 1800 tahun untuk membuat kitab Kejadian sampai Wahyu yang terdiri
dari dari 31.103 ayat dan 1.189 pasal.
Perjanjian
Lama berisi sejarah umat manusia sejak penciptaannya dan kejatuhannya dalam
dosa sehingga terpisah oleh Allah dan rencana Allah mengenai keselamatan
manusia dari dosa melalui umat yang dipilih-Nya, yaitu bangsa Israel dengan
menjanjikan datangnya sang Juruselamat dalam dunia. Sedangkan dalam Perjanjian
Baru berisi jalan bagi umat manusia untuk menerima keselamatan yaitu
pengampunan dosa, dan bagaimana manusia dapat memperoleh keselataman dengan
percaya pada Tuhan Yesus Kristus, sang Juruselamat. Oleh karena itu, Perjanjian
Lama yang berisi janji Allah kepada umat manusia sudah terwujud dan terjadi
penggenapannya dalam Perjanjian Baru dan merekan tidak dapat dipisahkan atau
merupakan suatu kesatuan. Serta dari Perjanjian Lama, kita dapat melihat
rencana dan kebesaran Allah secara jelas dan tepat.
Alkitab
yang sering kita baca memiliki sejarah pembuatan yang panjang. Pada masa
lampau, terdapat kumpulan kitab-kitab dan surat-surat. Lalu agar kitab-kitab
dan surat-surat tidak dianggap bidat atau menyimpang dan disahkan menjadi sebuah
Alkitan, maka para penatua membuat kanon yang ditulis pada kulit binatang, papyrus, dan dasa titah (loh batu). Kanon adalah alat pengukur (biasanya
yang digunakan adalah tongkat pengukur) karena dipakai untuk mengukur kehidupan
dan asas atau hukum kepercayaan. Akan tetapi ada juga kitab-kitab dan
surat-surat yang tidak sesuai dengan kanon. Kitab-kitab dan surat-surat itu
disebut dengan Deuteronika. Kitab Deuteronika tidak dipakai oleh gereja-gereja
Kristen sehingga mereka dibuang dan tidak dimasukkan ke dalam Alkitab. Oleh
karena itu, kitab-kitab dan surat-surat yang termasuk kanon mempunyai otoritas
untuk kepercayaan.
C.Rumusan Masalah
a. Alkitab Sebagai Firman Allah Yang Kekal
b. Firman Allah Mempunyai Kuasa
i. Firman Allah Memberi Pertolongan Ajaib
ii. Firman Allah Memberikan Hidup Baru
iii. Firman Allah Mengajarkan Kehidupan dan
Sifat Seorang Murid
iv. Firman Allah Menghakimi Kita
Bab III
Pembahasan
A. Alkitab sebagai Firman Allah yang Kekal
Alkitab terdiri dari 66 kitab dan surat berisi berita yang sama. Berita itu
merupakan berita anugrah dan berita sukacita bahwa orang yang percaya kepada
Allah akan diselamatkan melalui anak-Nya, Yesus Kristus. Alkitab ini ditulis oleh
beberapa orang yang diilhami oleh Roh Kudus. Sehingga sebenarnya penulis
Alkitab adalah Roh Kudus. Dalam surat Paulus di 2 Timotius 3:16 sudah tercantum
jelas fungsi dari Alkitab itu sendiri, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah
memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki
kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” Selain itu juga Firman
Allah yang tercantum dalam Alkitab, sebagian besar telah tergenapi janjinya dan
terbukti tepat baik dilihat dari sisi ilmu pengetahuan maupun sejarah. Namun
ada beberapa janji yang belum tergenapi, salah satunya adalah janji Yesus untuk
datang kedua kalinya ke dunia pada akhir zaman.
Karena Alkitab adalah Firman Allah, maka Allah akan menjaga agar Alkitab tidak musnah
dan bertahan kekal. Alkitab merupakan buku atau kitab yang berbeda dari buku
dan kitab-kitab yang lainnya. Perbedaannya adalah Alkitab tetap tinggal dan
tetap berguna dari masa ke masa dan merupakan sumber pengetahuan baik jasmani
maupun rohani. Dengan kata lain Allah berbicara kepada manusia lewat Alkitab.
Selain itu, Alkitab juga memiliki kuasa dari Allah, meskipun penulisnya adalah
manusia. Karena saat penulis menyusun Alkitab tersebut, Allah menurunkan Roh
Kudus untuk memberikan ilham.
Dalam
Wahyu 22:18-19, Allah mengingatkan dan memperingatkan manusia untuk tidak
menambah atau mengurangi Firman-Nya. Kata Dia, “… Jika seorang menambahkan
sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya
malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini.Dan jikalau seorang
mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah
akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang
tertulis di dalam kitab ini.”
Saya memiliki sebuah kisah tentang
keajaiban bahwa Alkitab ini merupakan buku atau kitab yang akan bertahan lebih
lama daripada buku-buku maupun kitab-kitab lain yang ada di dunia ini.
Cerita
ini saya ambil dari sebuah film rohani yang berjudul “The Book of Eli”.
Film ini menceritakan sebuah perjuangan seseorang yang mempertahankan
satu-satunya Alkitab pada jaman sesudah perang nuklir (karena Alkitab yang lain
telah dibakar dan dianggap tidak berguna oleh semua orang pada waktu itu). Dia
membawanya ke suatu daerah yang telah ditunjukkan oleh Tuannya (Allah) untuk
dibuat kembali dan kemudian diperbanyak. Tetapi dalam perjalanan ke daerah
tersebut, dia mengalami banyak rintangan yang menghadangnya. Mulai dari dikejar
oleh kelompok yang menginginkan buku tersebut, praktik kanibalisme antar
manusia, ditembak beberapa kali ditubuhnya sampai hampir sekarat, Alkitab
miliknya telah diambil dan lain sebagainya. Walaupun Alkitab miliknya telah
diambil dia tetap berkomitmen untuk berjalan menuju daerah yang ditujunya. Dan
sesudah sampai ke tempat yang ditujunya, dia lalu menyuruh seseorang untuk
menulis apa yang dia ucapkan.
Yang
dia ucapkan adalah seluruh kitab-kitab dan surat-surat di Alkitab mulai dari
Kejadian sampai Wahyu. Oleh karena itu, sebaiknya kita tiru teladan orang yang
bernama Eli ini, mulai dari mempertahankan satu-satunya Alkitab di bumi,
membaca Alkitab tiap hari, dan mampu menghafal semua bagian-bagian (isi)
Alkitab.
B. Firman Allah Mempunyai Kuasa
i. Firman Allah Memberi Pertolongan Ajaib.
Allah dan Firman-Nya merupakan satu
kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Tanpa Allah mana mungkin Alkitab dapat
tercipta? Firman-Nya atau Alkitab juga tidak dapat langsung muncul ke bumi
begitu saja tanpa adanya suatu campur tangan suatu pihak. Jadi disini juga
berbicara tentang kekuasaan Allah yang tak terbatas. Salah satunya adalah
pertolongan Allah yang ajaib. Lewat kuasa ini, segala persoalan yang mustahil
menjadi mudah untuk dilewati. Kuasa ini akan terjadi apabila kita mengutamakan
Allah dan percaya kepada-Nya dengan sepenuh hati. Seperti di dalam Injil Matius
yang berkata “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka
semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.[7]”
dan inilah yang seharusnya kita utamakan. Mencari dahulu kehendak Allah atas
hidup kita, maka kita akan mendapatkan balasannya pada saat waktunya.
Lewat
kepercayaan kita kepada Allah kita juga akan mendapatkan keajaiban yang
dilakukan oleh-Nya. Ada Firman yang berkata seperti ini “Percayalah kepada
TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu
sendiri.Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”.
Firman yang saya dapatkan setelah saya mendengarkan kotbah dari kakak
pembimbing saya waktu masih SMA dulu dan akan tetap saya pegang sampai hari ini
walaupun banyak sekali badai yang menerpa. Tetap percaya pada Tuhan Allah kita
dengan segenap hati kita dan jangan hanya mengandalkan pengertian kita sendiri
dan kita juga harus dituntut untuk peka akan suara-suara dari Allah melalui
saat teduh kita maupun dalam doa-doa kita. Dan marilah kita untuk mengingat
Allah dalam segala sesuatu yang kita lakukan, baik melakukan kegiatan kita
sehari-hari, berdoa, mandi, makan, dan yang lainnya. Maka Dia akan menunjukkan
kepada kita cara hidup yang baik, melalui persembahan maupun cara akal budi
kita, supaya kita makin berkenan kepada Dia dan sempurna di hadapan-Nya.
ii. Firman Allah Memberikan Hidup Baru.
Kuasa lain dari Firman Allah (secara
khusus) adalah memberikan kita hidup yang baru. Hidup baru yang didasari oleh
iman kita terhadap Yesus Kristus. Seperti kisah yang telah saya alami sendiri.
Saya
bersaksi bahwa Dialah yang memulihkan diri saya yang hancur karena berbagai
hal. Hal-hal itu antara lain keluarga saya yang berbeda keyakinan, sifat-sifat
dari lingkungan sekitar yang tidak baik untuk ditulis disini, perbuatan yang
tidak menyenangkan, perkataan yang tidak memberikan berkat (cenderung berbohong
dan berkata-kata kotor), sering berpikir yang tidak-tidak dengan orang lain,
suka menyontek dan lain sebagainya. Dia datang dalam wujud seorang kakak rohani
yang membimbing saya untuk lebih mendalami tentang Firman Allah yang dikemas
dalam kelompok kecil. Disana saya dibimbing untuk tidak melakukan hal-hal yang
membuat saya hancur seperti di atas. Dan mulai berdampak pada saat saya ujian
tengah semester kemarin dimana saya tidak menyontek sama sekali, belajar
bahan-bahan yang sudah disampaikan oleh dosen dan tidak lupa saya juga berdoa
kepada Tuhan supaya diberi kemudahan dan membuka kembali ingatan saya apa yang
saya pelajari saat itu juga. Walaupun IP tengah semester yang saya hitung 2,3
tetapi saya bersyukur bahwa itu adalah usaha saya sendiri dan saya serahkan
sepenuhnya di tangan Tuhan. Firman yang saya tulis disini merupakan ayat
hafalan yang semoga tetap saya hafal dan akan saya bagikan kepada kalian semua.
Dari kitab Yohanes 15: 7 yang berkata “Jikalau kamu tinggal di dalam
Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki,
dan kamu akan menerimanya.”
iii. Firman Allah Mengajarkan Kehidupan dan
Sifat Seorang Murid.
Allah juga mengajarkan kita sebagai
murid-Nya seperti Tuhan Yesus yang mengajar kedua belas murid-Nya. Dalam kitab
Galatia 2:19b-20 yang berbunyi “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun
aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang
hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah
hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan
diri-Nya untuk aku.” kita diajarkan supaya Tuhan Yesus Kristuslah yang seharusnya
menjadi pusat dari segala kegiatan atau aktifitas kita.
Menjadi seorang murid Allah itu tidaklah
mudah. Akan ada halangan dan rintangan yang menerpa kita. Disinilah kita diuji
untuk tahan banting, tahan lama dan tahan terhadap apapun. Mula-mula kita akan
diperhadapkan dengan masalah-masalah yang terbilang cukup ringan. Ketika kita sudah
bisa menghadapi masalah-masalah ringan tersebut, maka kita akan diperhadapkan
dengan perkara yang tingkatnya satu tingkat di atasnya. Disini kita
Juga
harus mengandalkan Tuhan setiap saat dan tetap setia menuruti kehendak Dia. “Barangsiapa
setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.
Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga
dalam perkara-perkara besar. “. Apabila dia tidak dapat
menyelesaikan masalah-masalah tersebut maka masalah itu akan menumpuk dan dia
akan meninggalkan (tidak setia) Tuhan dan mencari cara yang lain supaya masalah
itu bisa selesai.
Ada
satu lagi perkataan Allah dalam Firman-Nya bahwa “Pencobaan-pencobaan yang
kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan
manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai
melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan
ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” yang menjadi kekuatan kita,
dasar untuk menghadapi segala tantangan kita untuk menjadi murid dari Allah.
Selain
hal-hal diatas, kita juga perlu untuk bertumbuh dalam Firman-Nya. Karena kita adalah anak-anak Allah
yang terpilih untuk menjadi murid-Nya. Firman “Seperti pandan yang bertumbuh
tinggi kalau tidak di rawa atau mensiang yang bertumbuh subur, kalau tidak di
air.” itulah diri kita dengan teguh berpegang kepada
kebenaran di dalam kasih yang bertumbuh di dalam segala hal ke Kristus yang
adalah Kepala. Tidak hanya teguh berpegang kepada kasih kita kepada Kristus,
tetapi kita juga perlu berjaga-jaga dan berdoa supaya apa yang kita dapatkan
sebagai murid Allah tidak lepas begitu saja.
Sebagai
hal terakhir tentang Firman Allah yang mengajarkan kita tentang kehidupan
dan sifat dari seorang murid adalah membutuhkan suatu proses. Proses pertama
untuk menjadi seorang murid adalah menerima dahulu Tuhan Yesus Kristus sebagai
jalan keselamatan. Dalam Injil Yohanes Yesus mengatakan bahwa Dia adalah jalan,
kebenaran dan hidup dan tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa (Allah),
kalau tidak melalui Aku. Itulah sebabnya dalam setiap mengikut menjadi murid
Allah harus mengerti tentang hal ini. Setelah kita menerima Dia sebagai juru
selamat, yang kedua adalah mengerti tentang Firman Allah. Dalam hal ini, kita
perlu kepekaan untuk mengerti apa yang akan dibicarakan oleh Allah.
Kepekaan
ini dapat kita dapatkan setelah Roh Kudus telah ada di dalam diri kita. Roh
Kudus adalah Roh yang diberikan oleh Allah sebagai penghubung antara kita
dengan Allah. Dia juga yang akan mengajarkan dan mengingatkan kita akan sesuatu
yang telah Allah katakan. Dari Roh Kudus, kita dapat memiliki bahasa Roh
(bahasa rahasia kita kepada Allah, bahkan Iblis takut akan bahasa tersebut),
dapat mengobrol dengan Allah secara pribadi lepas pribadi, dapat mengerti
tentang hal yang salah dan benar, dapat mengajarkan kita berbicara dengan
hikmat dan sopan, dan banyak hal lain. Setelah kita menerima Roh Kudus secara
pribadi yang mengajarkan kita segala hal, kita harus bertemu secara pribadi
dengan Yesus Kristus melalui saat teduh, doa, pendalaman Alkitab, maupun Bible Reading.
Proses
selanjutnya adalah kita tahu akan tujuan akhir kita dalam dunia ini. Tujuan itu
haruslah kita cari dan bukan seperti kita duduk saja, lalu datang sendiri
tujuan itu. Disini kita dituntut untuk lebih peka akan kehendak Allah. Dan kita
juga harus hidup rendah hati. Mengutamakan orang lain daripada diri sendiri.
Kita juga harus mengerti tentang Amanat Agung. Apakah itu merupakan tujuan kita
atau hanya merupakan hal yang kita tahu saja tanpa ada realisasinya. Dan akhir
dari proses tersebut adalah unity atau kesatuan. Kesatuan dari
masing-masing pribadi yang tahu tentang tujuan dan arah hidup mereka.
Jika
tujuan mereka sama, satu, sehati, sepikir, maka jadilah mereka suatu kelompok
yang akan memperjuangkan tujuan mereka agar tercapai. Jika tujuannya adalah
yang tercantum dalam Amanat Agung, memberitakan Injil sampai seluruh bangsa,
sebaiknya mereka yang mempunyai tujuan tersebut bersatu dan saling menguatkan
jika ada salah satu mereka yang jatuh atau sedang down. Pada akhirnya murid-murid Allah ini akan menjadi berkat bagi
sekitar mereka.
iv. Firman Allah Menghakimi Kita
Tidak
hanya untuk kebahagiaan umat-Nya saja adanya Firman dari Allah, tapi Firman-Nya
ada juga untuk menghakimi umat-Nya. Allah mampu menghakimi umat-Nya karena
Allah memiliki kuasa untuk menghakimi. Para nabi dalam Perjanjian Lama dan
Perjanjian Baru sering kali mengucapkan kata-kata hukuman yang mereka terima
dari Allah. Pada Injil Yohanes 12:48 yang berbunyi demikian, “Barangsiapa
menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu
firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir
zaman.” Yesus mengatakan bahwa Firman-Nya akan menghakimi orang yang
menolak diri-Nya.
Selain
Firman Allah dapat menghakimi kita, Firman-Nya juga memiliki kuasa untuk
mengijinkan Iblis mencobai umat-Nya. Seperti yang dialami oleh Yesus sendiri
yang telah dicobai oleh Iblis di padang gurun sebanyak tiga kali.
Pencobaan-pencobaan itu antara lain mengubah batu menjadi roti, menjatuhkan
diri dari bubungan Bait Allah dan Iblis juga akan menjadikan Yesus pemimpin
dari segala kerajaan di bumi dengan syarat Dia harus menyembah sang
Iblis. Tetapi Yesus menjawab dengan penuh keimanan dan menolak semua ajakan
Iblis[16].
Ada juga pencobaan, tetapi tidak berasal dari Iblis, pencobaan ini sendiri
berasal dari Allah sendiri. Dalam kitab Kejadian 22 ayat 1 sampai 19, Allah
mencoba iman dan ketaatan Abraham melalui pengorbanan anak satu-satunya, yaitu
Ishak.
Pengorbanan
itu sebagai persembahan untuk Allah sendiri. Dalam hati seorang manusia biasa,
pasti ada perasaan yang berkecamuk jika perkataan Allah itu menyuruh kita untuk
mempersembahkan anak satu-satunya kepada Allah. Tetapi Abraham tetap setia
dengan perkataan Allah, sehingga saat Abraham akan menyembelih Ishak, Malaikat
Tuhan turun dan mengatakan “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan
dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau
tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.” dan
Abraham mendapatkan seekor domba jantan sebagai pengganti persembahan untuk
Allah. Lalu Malaikat Tuhan berkata untuk kedua kalinya, “Aku bersumpah demi
diri-Ku sendiri -demikianlah firman TUHAN -: Karena engkau telah berbuat
demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal
kepada-Ku, maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat
keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi
laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya.Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan
mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku.
Selain
menghakimi, Allah juga menuntut Roh kita menguasai jiwa kita, agar emosi dan
kemauan kita dikendalikan oleh Roh. Kalau jiwa kita, yaitu emosi dan kemauan
menguasai roh kita, maka kita menjadi histeris dalam penyembahan dan menuruti
keinginan daging kita. Dalam Injil Matius mengatakan roh kita memang menurut
akan kehendak Allah, tetapi daging kita adalah lemah[19].
Maka dari itu, kita perlu untuk tetap berserah kepada Allah agar kita
dimampukan untuk tetap melakukan perintah-Nya dan usaha kita tidak akan
sia-sia.

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda