PERJUANGAN KEMERDEKAAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
PERJUANGAN KEMERDEKAAN
Perang Pasifik semakin berkecamuk. Tentara sekutu di bawah pimpinan Amerika serikat semakin mantap,
sementara Jepang mengalami
kekalahan di mana-mana.
Pasukan Jepang yang berada di Indonesia bersiap-siap mempertahankan diri.
Selama masa pemerintahan Jepang di Indonesia tahun 1942-1945, Indonesia dibagi dalam dua wilayah
kekuasaan berikut.
a. Wilayah Komando Angkatan Laut yang berpusat
di Makasar, meliputi
Kalimantan, Sulawesi,
Nusa Tenggara, Maluku,
dan Irian Jaya.
b. Wilayah Komando Angkatan Darat yang berpusat di Jakarta, meliputi
Jawa, Madura, Sumatra dan Malaya. Pusat komando untuk seluruh kawasan Asia Tenggara terdapat
di Dalat (Vietnam).
Serangan tentara
sekutu sudah mulai diarahkan
ke Indonesia. Setelah menguasai Pulau Irian dan Pulau Morotai di Kepulauan Maluku pada tanggal
20 Oktober 1944. Jendral Douglas Mac Arthur, Panglima armada Angkatan
Laut Amerika Serikat di Pasifik, menyerbu
Kepulauan leyte (Filipina). Penyerbuan ini adalah penyerbuan terbesar dalam Perang
Pasifik. Pada tanggal 25 Oktober 1944 Jenderal Douglas
Mac Arthur mendarat di pulau Leyte.
Untuk menarik simpati rakyat Indonesia, Jepang mengijinkan pengibaran bendera Merah Putih di
samping bendera Jepang.
Lagu kebangsaan Indonesia Raya boleh dikumandangkan setelah lagu kebangsaan
Jepang Kimigayo.
A.Persiapan Proklamasi
Pada akhir tahun 1944, kedudukan
Jepang dalam Perang Pasifik sudah sangat terdesak. Angkatan perang
Amerika Serikat sudah tiba di daerah Jepang sendiri dan secara teratur mengebom kota-kota utamanya.
Ibukotanya sendiri, Tokyo, boleh dikatakan sudah hancur menjadi tumpukan
puing. Dalam keadaan terjepit, pemerintah Jepang memberikan
“kemerdekaan” kepada negeri-negeri yang merupakan front terdepan,
yakni
Birma dan Filipina. Tetapi kemudian kedua bangsa itu memproklamasikan
lagi kemerdekaannya lepas dari Jepang.
Adapun kepada Indonesia
baru diberikan janji “kemerdekaan” di kelak kemudian
hari. Dengan cara demikian
Jepang mengharapkan bantuan
rakyat Indonesia menghadapi
Amerika Serikat, apabila mereka menyerbu Indonesia. Dan saat itu tiba pada pertengahan
tahun 1945 ketika tentara Serikat
mendarat di pelabuhan minyak Balikpapan.
Dalam keadaan yang gawat ini, pemimpin pemerintah pendudukan Jepang di Jawa membentuk sebuah Badan Penyelidik
Usaha-usaha Persiapan
Kemerdekaan (Dokuritsu Junbi Cosakai). Badan itu beranggotakan tokoh- tokoh utama Pergerakan Nasional Indonesia dari segenap daerah dan aliran dan
meliputi pula Soekarno-
Hatta.
Sebagai ketuanya ditunjuk dr. Radjiman Wedyodiningrat seorang nasionalis tua, dengan dua orang wakil ketua, yang
seorang dari Indonesia dan yang lain orang Jepang.
Pada tanggal 28 Mei 1945 dilakukan upacara pelantikan anggota
Dokuritsu Junbi Cosakai,
sedangkan persidangan pertama berlangsung pada tanggal 29 Mei 1945 sampai dengan tanggal 1 Juni 1945. Persidangan
pertama itu dipusatkan kepada usaha merumuskan
dasar filsafat bagi negara Indonesia Merdeka. Dalam sidang 29
Mei, Mr. Muh. Yamin di dalam pidatonya
mengemukakan lima azas dan
dasar negara kebangsaan Republik
Indonesia berikut ini.
1. Peri Kebangsaan
2. Peri Kemanusiaan
3. Peri Ke-Tuhanan
4. Peri Kerakyatan
5. Kesejahteraan Rakyat
Kemudian pada tanggal 1 Juni, Ir. Soekarno mengucapkan pidatonya mengenai dasar filsafat
negara Indonesia Merdeka
yang juga terdiri
atas 5 azas berikut.
1.
Kebangsaan Indonesia
2. Internasionalisme atau peri kemanusiaan
3. Mufakat atau demokrasi
4. Kesejahteraan sosial
5. Ketuhanan Yang Maha Esa
Ia
menambahkan pula nama Pancasila kepada kelima azas itu yang dikataknnya “atas usul seorang
teman ahli bahasa”.
Sesudah persidangan pertama itu, Dokuritsu Junbi Cosakai menunda persidangannya sampai
bulan juli. Sementara itu pada tanggal
22 Juni 1945,
9 orang anggotanya yaitu : Ir. Sukarno, Drs. Moh. Hatta, Mr. Muh. Yamin, Mr. Ahmad
subarjo, Mr. A.A. Maramis, Abdulkahar
Muzakkir, Wachid hasyim, H.
Agus salim dan Abikusno TjokroSuyoso membentuk suatu panitia kecil.
Panitia kecil ini menghasilkan suatu dokumen yang berisi rumusan azas dan
tujuan negara Indonesia merdeka. Dokumen ini kemudian dikenal dengan
nama “Piagam Jakarta” sesuai dengan penamaan Muh. Yamin. Kemudian pada tanggal 7 Agustus
1945, Dokuritsu Junbi Cosakai dibubarkan. Sebagai gantinya dibentuk Panitia
Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Pada tanggal 7 Agustus 1945, Ir. Soekarno,
Drs. Moh. Hatta dan dr. Radjiman
dipanggil oleh Panglima tertinggi Mandala
Selatan Jepang yang membawahi
seluruh Asia Tenggara, yakni Marsekal
Darat Hisaici Terauci
ke markas besarnya di Dalat (Vietnam
selatan). Kepada ketiga
pemimpin Indonesia itu, disampaikan oleh Marsekal Terauci bahwa pemerintah
Jepang telah memutuskan untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia.
persoalan siapa yang sebaiknya menandatangani Proklamasi ini. Sukarni yang
mengusulkan agar teks proklamasi sebaiknya
ditandatangani oleh Ir.Soekarno dan Drs. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia.
Usul itu diterima oleh seluruh
hadirin, dan konsep itu kemudian diketik oleh Sayuti Melik. Naskah yang telah diketik oleh
Sayuti Melik dan kemudian ditandatangani oleh Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta inilah yang merupakan naskah proklamasi
yang otentik (sejati). Malam itu juga diputuskan bahwa proklamasi
kemerdekaan Indonesia akan dibacakan di tempat kediaman Ir. Soekarno, yaitu Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta
(sekarang Jl. Proklamasi).
B. Pembentukan dan Perkembangan Awal RI
Proklamasi dan Kehidupan Politik
Sejak pagi hari pada tanggal 17 Agustus 1945 telah diadakan
persiapan- persiapan di rumah Ir. Soekarno
di Pegangsaan Timur 56 untuk menyambut
proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Lebih kurang 1000 orang telah hadir
untuk menyaksikan peristiwa
yang maha penting itu. Pada pukul 10 kurang
lima menit Hatta datang dan langsung masuk ke kamar Soekarno. Kemudian kedua pemimpin itu menuju ke
ruang depan, dan acara segera dimulai tepat pada jam 10 sesuai dengan waktu yang telah direncanakan. Soekarno membacakan naskah proklamasi yang sudah diketik dan ditandatangani
bersama dengan Moh. Hatta :
Sehari setelah Proklamasi Kemerdekaan, pada tanggal 18 Agustus 1945, PPKI mengadakan sidangnya yang pertama. Dalam sidang itu mereka
menghasilkan beberapa keputusan penting berikut.
1. Mengesahkan UUD yang sebelumnya
telah dipersiapkan oleh Dokuritsu
Junbi Cosakai (yang sekarang dikenal
dengan nama UUD 1945)
2. Memilih Ir. Soekarno sebagai presiden dan Drs. Moh. Hatta sebagai wakil
presiden.
3. Dalam masa eralihan Presiden untuk sementara
waktu akan dibantu oleh
sebuah Komite Nasional.
Pada tanggal 19 Agustus 1945, Presiden dan
wakil presiden memanggil beberapa anggota PPKI beserta golongan
cendekiawan dan pemuda untuk
membentuk “Komite Nasional Indonesia Pusat” (KNPI). KNPI akan berfungsi sebagai Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), sebelum terbentuknya DPR hasil
pilihan rakyat. Sejak hari itu sampai awal September, Presiden
dan wakil Presiden membentuk
kabinet yang sesuai dengan UUD 1945 dipimpin oleh
Presiden sendiri dan mempunyai 12 departemen serta menentukan wilayah RI dari Sabang sampai Merauke
yang dibagi menjadi
8 propinsi yang masing-
masing dikepalai oleh seorang Gubernur.
Propinsi-propinsi itu adalah Sumatra, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Sunda Kecil (Bali dan Nusa Tenggara).
Untuk menjaga
keamanan, telah dibentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada masing-masing daerah sebagai munsur dari pada KNI
daerah. Pemerintah dengan sengaja tidak mau segera membentuk
sebuah tentara nasional,
karena khawatir bahwa hal itu akan menimbulkan kecurigaan dan sikap permusuhan dari pihak serikat. Para pemuda merasa tidak puas dengan kebijaksanaan pemerintah ini. Mereka berpendapat bahwa Pemerintah harus segera
membentuk sebuah tentara nasional sebagai aparat kekuasaan
negara yang
baru itu. Golongan pemuda yang tidak puas itu sebagian membentuk
badan-
badan perjuangan. Sebaliknya pemuda-pemuda bekas PETA, Heiho,
KNIL dan anggota badan-badan semi militer, memutuskan
untuk memasuki BKR di
daerahnya masing-masing dan menjadikan badan itu wahana bagi perjuangan bersenjata menegakkan kedaulatan Republik Indonesia. Mereka menganggap
dirinya pejuang, sama dengan pemuda-pemuda yang membentuk badan- badan perjuangan.
Pada bulan oktober golongan
sosialis dibawah pimpinan
Sutan Sahrir dan Amir
Syarifudin berhasil menyusun
kekuatan di dalam KNIP dan mendorong
dibentuknya sebuah Badan Pekerja yang kemudian dikenal
dengan sebutan BP-KNIP. Langkah
berikutnya adalah mendesak
terbentuknya sebuah kabinet parlementer di bawah pimpinan seorang Perdana Menteri (suatu hal yang menyimpang dari UUD 1945). Tidak mengherankan bahwa yang diangkat sebagai perdana menteri adalah tokoh sosialis,
mula Syahrir dan kemudian
Amir Syarifudin.
Perkembangan politik selanjutnya adalah dikeluarkannya Maklumat Pemerintah tanggal 3 November
1945 yang ditandatangani oleh wakil presiden Hatta yang mencanangkan pembentukan partai-partai politik. Maka terbentuklah partai-partai seperti cendawan
di musim hujan.
Kehidupan Ekonomi
Pada zaman pendudukan Jepang, seluruh potensi ekonomi Indonesia diarahkan kepada kepentingan perang.
RI yang baru berdiri mewarisi
keadaan ekonomi yang sangat kacau dari zaman pendudukan Jepang itu. Inflasi
yang hebat diwarisi oleh negara yang baru berumur
beberapa hari itu. Sumber inflasi adalah beredarnya uang rupiah Jepang secara tidak terkendali, sedangkan Republik belum dapat menyatakan bahwa uang Jepang tidak berlaku,
karena belum memiliki uang sendiri sebagai penggantinya. Kas pemerintah kosong, pajak-pajak dan bea masuk sangat kurang, sedangkan p[engeluaran negara semakin bertambah. Untuk sementara waktu, Pemerintah mengambil kebijaksanaan mengakui
beberapa macam uang sebagai tanda pembayaran
yang sah di wilayah RI yakni : uang De Javasche Bank, uang pemerintah Hindia Belanda
dan uang Jepang.
Keadaan yang sulit
ini ditambah lagi dengan
dilakukannya blokade laut oleh Belanda.
sambutan dari rakyat sehingga
jumlah uang terkumpul
meliputi 500 juta rupiah.
Jumlah sebanyak ini tentu menambah
kas pemerintah dan juga menunjukkan kepercayaan rakyat kepada
Pemerintah dan aparatnya. Dalam pada itu pihak serikat mengumumkan berlakunya
uang NICA sebagai pengganti uang
Jepang. NICA adalah Netherlands Indies Civil Administration, yang merupakan
pendahulu dari pada pemerintah kolonial Hindia Belanda
yang ingin kembali ke Indonesia. PemerintAh menyarankan kepada rakyat untuk tidak
menggunakan uang NICA sebagai alat pembayaran. Selanjutnya pemerintah pada bulan oktober
1946 mengeluarkan uang kertas RI yang terkenal dengan nama ORI. Karena uang Jepang telah merosot harganya maka nilai tukarnya
disesuaikan, yaitu 1000 rupiah uang Jepang ditukar
dengan 1 rupiah
uang ori. Dalam pada itu ekonomi
Indonesia semakin payah. Pendapatan Pemerintah tidak sebanding dengan pengeluaran. Hasil produksi pertanian
dan perkebunan sebagian besar tidak dapat dieksport. Pemerintah semata-mata
bergantung pada produksi petani. Produksi pertanian
merupakan dasar pokok dari
pada kehidupan ekonomi
Indonesia. Bahkan pada waktu itu hasil
pertanian Indonesia mencapai kelebihan sebanyak
400.000 ton beras. Itulah
sebabnya pemerintah memberikan bantuan
kepada India yang sedang dilanda oleh bahaya kelaparan sebanyak
500.000 ton. Tindakan
pemerintah ini lebih didasarkan kepada segi kemanusiaan. Namun secara politis tindakan tersebut mdenegaskan kehadiran Republik Indonesia
di dunia. Apalagi
karena India paling aktif membantu perjuangan Indonesia di forum internasional,
terutama dalam rangka solidaritas bangsa-bangsa Asia. Usaha lain dari Pemerintah
adalah mengadakan hubungan
dagang langsung dengan luar negeri antara lain dengan jalan mengadakan hubungan
dagang langsung dengan luar negeri antara lain dengan jalan mengadakan kontak dengan perusahaan
swasta Amerika. Tetapi karena kuatnya blokade Belanda maka sebagian dari kapal
dagang swasta yang dikirimkan itu ditangkap oleh Belanda. Sebagai
jalan keluar maka pemerintah mengalihkan kegiatan perdagangannya dari pulau Jawa ke
pulau Sumatra. Selama tahun 1946 pelabuhan di Sumatra yang dikuasai penuh
oleh Belanda baru pelabuhan Belawan
saja. Dari Sumatra dieksport karet ke Singapura
dalam jumlah yang besar, yang hasilnya ikut membantu keuangan pemerintah. Juga diusahakan kembali pabrik-pabrik gula yang
menghasilkan bahan eksport terpenting. Hasil eksport gula kemudian
ditukar dengan kebutuhan seperti pakaian
dari luar negeri.
Seluruh perkebunan bekas milik Belanda dan Jepang diusahakan
kembali oleh pemerintah
untuk ikut memperbaiki ekonomi
Indonesia. Pada tahun 1948 pemerintah melancarkan rekonstruksi-rasionalisasi Angkatan
Perang. Tenaga bekas Angkatan Perang ini kemudian
disalurkan ke bidang pembangunan, antara lain
untuk membuka tanah yang kosong di Sumatra Timur. Juga direncanakan
untuk mengadakan transmigrasi ke daerah luar Jawa. Dalam waktu 10 tahun sebanyak 20 juta penduduk Jawa harus dipindahkan ke Sumatra dalam rangka transmigrasi. Tetapi rencana
itu belum sempat dilaksanakan selama Republik masih diancam oleh kolonialisme Belanda.

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda